Opini – Minggu, 29 Maret 2026, di Kota Cirebon, tepatnya di cafe Smiljan Dutchbook, diadakan acara bedah buku karya Jein Oktaviany yang berjudul “Apa yang Kau Lupakan Hari Ini?”.
Saya pun menghadiri acara tersebut. Acara berlangsung meriah dan mendapat antusiasme dari para peserta, yang ditandai dengan kehadiran berbagai kalangan, mulai dari orang tua, mahasiswa, hingga komunitas literasi yang ada di Cirebon.
Sewaktu saya berada di tempat acara, saya mengamati para pengunjung dan melihat bahwa orang-orang yang menghadiri acara tersebut kebanyakan berasal dari kalangan mahasiswa dan kelas pekerja.
Akhirnya, di hati saya timbul pertanyaan, “Kenapa ya, acara sebagus ini minim kehadiran dari kalangan masyarakat akar rumput?”
Mengingat bahwa masyarakat Indonesia masih banyak yang minim literasi, serta jauh dari buku, paper, maupun jurnal, maka acara-acara seperti ini layak dipertahankan dan dilestarikan untuk menarik perhatian masyarakat terhadap literasi, buku, dan makna yang terkandung di dalamnya.
Namun, fakta yang terjadi di lapangan adalah kebanyakan acara bedah buku dan sejenisnya hanya dihadiri oleh kalangan mahasiswa. Masyarakat biasa yang tidak mendapatkan akses pendidikan jarang sekali terlihat di acara-acara seperti itu. Lalu, apa yang menjadi penyebabnya?
Hasil dari apa yang saya amati, ada dua alasan yang menjadi penyebab minimnya kehadiran masyarakat akar rumput di acara seperti itu.
1. Kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya ilmu pengetahuan
Sebenarnya, banyak sekali acara-acara yang bagus dan bermanfaat yang diadakan oleh kalangan anak muda atau mahasiswa, entah itu festival, seminar, diskusi, bedah buku, atau bahkan debat sekalipun. Namun tetap saja, fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih sangat minim sekali kehadiran dari kalangan masyarakat akar rumput.
Kenapa demikian? Karena kebanyakan masyarakat kita belum menyadari pentingnya ilmu pengetahuan. Banyak dari mereka lebih mementingkan sesuatu yang sifatnya material, seperti uang, makanan, dan lain-lain, sehingga melupakan hal-hal yang bersifat abstrak, seperti ilmu pengetahuan, pengalaman, dan sebagainya.
Contohnya, suatu ketika ada acara seminar yang dihadiri oleh narasumber yang kompeten serta memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk menyalurkan ilmu atau berbagi pengalaman kepada orang lain. Namun, acara tersebut sepi karena tidak menyediakan nasi kotak atau makanan bagi para peserta.
Dari sini, kita bisa melihat bahwa kebanyakan masyarakat kita masih lebih mementingkan hal-hal yang bersifat material. Mereka lupa bahwa dengan menghadiri acara seminar, mereka dapat memperoleh ilmu, pengalaman, bahkan membangun relasi dengan orang lain.
2. Tempat acara
Dari beberapa acara yang saya amati, masalah tempat adalah salah satu alasan mengapa banyak masyarakat akar rumput jarang menghadiri acara-acara tersebut.
Selama ini, banyak acara seperti bedah buku, diskusi, dan lain-lain diadakan di cafe, di ruang-ruang yang membuat masyarakat merasa minder untuk menghadirinya. Hal ini karena anggapan masyarakat akar rumput tentang cafe adalah sebagai tempat yang mewah, dengan makanan dan minuman yang mahal. Wajar jika mereka merasa minder, karena mereka tidak terbiasa berkunjung ke tempat-tempat seperti itu. Jangankan untuk memesan kopi yang harganya relatif di atas 20 ribu, untuk makan saja masih susah.
Dari pembahasan di atas, kita semua tahu bahwa minimnya literasi masyarakat Indonesia bukan hanya disebabkan oleh kemalasan membaca, tetapi jauh lebih dari itu. Ada banyak alasan dan faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat literasi masyarakat Indonesia.
Nah, dengan hadirnya acara-acara bedah buku dan sejenisnya, hal tersebut sebenarnya merupakan langkah yang baik untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia.
Namun, yang perlu dievaluasi adalah eksekusinya. Sebelum kita menghadirkan ruang literasi bagi masyarakat akar rumput, alangkah baiknya kita terlebih dahulu melebur dengan mereka. Kita mengajak dengan rangkulan yang rendah hati serta memberi edukasi bahwa ilmu pengetahuan itu sangat penting, dan membaca pun merupakan hal yang tidak kalah penting.
Karena jika tiba-tiba diadakan ruang literasi, sementara mereka belum menyadari pentingnya ilmu pengetahuan dan membaca, maka pasti hasilnya pun akan sama, sepi.
Penulis: Malik Nabawi
Editor: Lucky Firmansyah
