OBROG DI BULAN RAMADHAN: TRADISI YANG PERLU DILESTARIKAN ATAU SUDAH TAK RELEVAN?



Opini – Fenomena obrog saat Ramadhan merupakan tradisi yang memiliki nilai sosial dan budaya yang kuat, khususnya di wilayah Jawa Barat. Pada awalnya, obrog berfungsi sebagai sarana membangunkan sahur sekaligus mempererat hubungan antarwarga. Tradisi ini menjadi ruang interaksi sosial, terutama bagi pemuda, untuk belajar tentang kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Dalam konteks ini, obrog bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan simbol identitas budaya dan solidaritas masyarakat selama bulan Ramadhan.

Namun, di tengah perkembangan zaman, relevansi dan praktik obrog perlu dilihat secara lebih kritis. Fungsi utamanya sebagai pengingat sahur kini telah banyak tergantikan oleh teknologi seperti alarm ponsel dan pengeras suara masjid. Akibatnya, obrog sering kali kehilangan fungsi praktisnya dan beralih menjadi aktivitas simbolik. Dalam beberapa kasus, kegiatan ini bahkan menimbulkan kebisingan berlebihan, mengganggu kenyamanan warga, serta berpotensi memicu konflik antar kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa obrog tidak selalu memberikan dampak positif, terutama ketika dilakukan tanpa kontrol, tanpa tujuan yang jelas, dan hanya menjadi ajang eksistensi semata.

Di sisi lain, menghapus obrog sepenuhnya juga bukan solusi yang bijak, karena tradisi ini tetap memiliki nilai budaya dan sosial yang penting. Permasalahan utamanya bukan pada keberadaan obrog, tetapi pada bagaimana tradisi tersebut dijalankan. Tradisi seharusnya tidak dipertahankan secara turun-temurun tanpa pertimbangan, tetapi juga tidak ditinggalkan begitu saja tanpa upaya adaptasi. Tradisi obrog perlu disesuaikan agar tetap relevan, misalnya dengan pelaksanaan yang lebih tertib, terorganisir, tidak berlebihan, serta tetap menghormati kenyamanan masyarakat. Pendekatan kreatif seperti mengemas obrog sebagai bagian dari kegiatan sosial yang terarah dapat menjadi solusi untuk menjaga maknanya tanpa menimbulkan dampak negatif.

Dengan demikian, tradisi obrog tidak perlu dihilangkan, tetapi juga tidak boleh dipertahankan tanpa kritik. Tradisi ini perlu dijaga secara selektif dan bijak, dengan menyesuaikan pelaksanaannya terhadap kondisi dan kebutuhan masyarakat modern. Melestarikan obrog seharusnya bukan sekadar menjaga bentuknya, tetapi menjaga nilai kebersamaan dan solidaritas yang menjadi inti dari tradisi tersebut, sambil tetap memastikan bahwa keberadaannya tidak mengganggu harmoni dan kenyamanan masyarakat. 


Penulis: Seus Salsa, Seus Kiki, dan Bung Nizar

Editor: Bung Lucky

Lebih baru Lebih lama