Feature – Saat sebagian besar dunia menyebut tahun 2026, masyarakat di Nepal justru telah memasuki tahun 2082. Mengapa demikian? Perbedaan ini bukan karena waktu berjalan lebih cepat, melainkan karena negara tersebut menggunakan sistem penanggalan yang berbeda dari kalender internasional.
Dinasti Rana di Nepal menjadikan Bikram Sambat sebagai kalender resmi Hindu pada tahun 1901 M, yang dimulai pada tahun 1958 BS. Tahun baru di Nepal dimulai dengan hari pertama bulan Baisakh, yang biasanya jatuh sekitar 13–15 April dalam kalender Gregorian dan diakhiri dengan hari terakhir bulan Chitra. Hari pertama tahun baru adalah hari libur umum di Nepal. Bisket Jatra, karnaval tahunan di Bhaktapur, juga dirayakan pada Baisakh 1.
Nepal memakai kalender Bikram Sambat sebagai kalender resmi negara. Sistem ini memiliki selisih sekitar 56 tahun 8 bulan lebih maju dibandingkan Kalender Gregorian atau Masehi yang digunakan secara luas di dunia. Ketika kalender Masehi menunjukkan tahun 2026, di Nepal, tahun yang tercatat dalam kalender Bikram Sambat adalah tahun 2082, tergantung pada bulan yang sedang berjalan.
Bikram Sambat merupakan kalender lunisolar, yang perhitungannya didasarkan pada pergerakan matahari dan bulan. Tahun barunya biasanya jatuh pada pertengahan April, berbeda dengan perayaan 1 Januari dalam kalender Gregorian. Kalender Bikram Sambat juga digunakan dalam dokumen pemerintahan, pendidikan, serta penetapan hari-hari besar nasional.
Meski begitu, Nepal tetap menggunakan kalender Gregorian untuk keperluan internasional seperti hubungan diplomatik, perdagangan, dan komunikasi global. Perbedaan sistem penanggalan ini menunjukkan bahwa kalender bukan sekadar alat menghitung waktu, tetapi juga bagian dari identitas sejarah dan budaya suatu bangsa.
Penulis: Malik Nabawi
Editor: Lucky Firmansyah
