Opini 1
Tadi juga lewat bahwasanya Israel meluncurkan lagi bom ke Palestina, which is ironi karena mereka baru aja bikin organisasi yang tujuannya untuk mendamaikan tapi disisi lain serangan juga masih diluncurkan.
Opini 2
Pernyataan Prabowo Subianto di forum Board of Peace (BoP) di Davos yang menyebut Indonesia sebagai “bunker moral” justru menyingkap paradoks besar. Forum yang mengklaim diri ingin mendamaikan Israel-Palestina itu diisi oleh aktor-aktor yang secara terang benderang berpihak pada Israel, sementara suara Palestina nyaris tidak terwakili secara seimbang. Statemen Prabowo tampak bukan sebagai sikap moral yang berani, melainkan sebagai retorika aman agar Indonesia tetap mendapat panggung di hadapan elite global. Moralitas dipresentasikan, tetapi ketidakadilan struktural dibiarkan.
Alih-alih menggugat bias moral BoP, Prabowo memilih bahasa simbolik yang tidak mengganggu kenyamanan forum. Ini menimbulkan kesan bahwa penderitaan Palestina direduksi menjadi latar belakang diplomasi pencitraan. Ketika forum perdamaian kehilangan keberpihakannya pada korban, dan Indonesia tetap duduk manis di dalamnya tanpa kritik terbuka, maka klaim sebagai bunker moral berubah menjadi ironi. Moral tidak lagi menjadi alat perlawanan, melainkan aksesori politik cukup indah untuk dikutip media internasional, namun kosong dari keberanian politik.
Sikap ini sulit dibela sebagai diplomasi berdaulat. Diplomasi yang berdaulat seharusnya berani tidak populer, berani mengganggu, dan berani kehilangan tepuk tangan Davos demi prinsip kemanusiaan. Jika nama Indonesia digunakan untuk memperindah panggung global tanpa menantang ketidakadilan yang nyata, maka yang terjadi bukan pembelaan moral, melainkan komodifikasi etika. Pertanyaannya menjadi tajam: apakah Indonesia hadir di Davos untuk membela kemanusiaan, atau sekadar memastikan dirinya tetap diterima oleh tatanan global yang timpang?
Opini 3
Simpelnya, BOP ini bukan dewan perdamaian yang bertujuan untuk mendamaikan antar negara tapi alat atau gaya baru untuk menjajah palestina, karena Indonesia pun pernah mengalami apa yang dialami palestina, coba deh kita flashback pas zaman 1945 Indonesia secara resmi merdeka lalu pada tahun 1946 -1947 belanda datang lagi dengan bantuan Inggris, ingin membatasi wilayah Indonesia, namun pada saat itu seluruh rakyat Indonesia dan para tokonya menolak mentah-mentah, nah BOP Pun sama mereka menjajah palestina lewat rapat-rapat, lewat diplomasi tujuannya mah satu pengen balik lagi ke Palestina dan menjajah, cuman ga Keliatan menjajahnya karena dibungkus dengan gaya "diplomasi dan rapat"
Opini 4
Masuknya Indonesia ke Board of Peace (BoP) ada satu alasan yang menjadi point menarik, disini masalahnya kita ngga bisa secara tiba-tiba buat mengalahkan pengaruh dari Amerika semudah membalikkan telapak tangan. Tapi setidaknya kita ada di dalam ruangan yang sama buat mengontrol. Intinya secara ngga langsung bisa memantau pergerakan mereka, daripada cuman denger berbagai narasi diluar tapi kita ngga ada akses buat langsung ke meja besar. Nah, pertanyaan nya kenapa palestina ngga ikut bergabung didalamnya, sedangkan Israel ada? Perlu diingat BoP bukan forum untuk pihak yang sedang berkonflik, dan satu alasan mungkin kemerdekaan Palestina emang belum bisa didapat, tapi disini BoP berperan sebagai penjamin atau mediator. Semisal ketika ngga ada negara yang pro dengan palestina, maka yang di takutkan akan menjadi keputusan yang sepihak yang tentunya bisa merugikan palestina itu sendiri. Makanya balik lagi, apakah Indonesia bener-bener hadir buat ikut berani bersuara atau ada alasan lain dibaliknya.
