Mengulas Penyebab Banjir Di Wilayah Cirebon


Apa Penyebab Utama Banjir Di Wilayah Cirebon?

Mari Kita Simak!

Cirebon merupakan wilayah bagian timur dari Provinsi Jawa Barat yang menjadi perbatasan antara Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Setiap musim penghujan, wilayah Cirebon selalu dihadapkan pada permasalahan banjir yang disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor iklim dan curah hujan, penggunaan lahan, ketinggian atau elevasi, kemiringan lereng, serta jarak terhadap sungai.

Biar lebih jelas, mari kita kupas lebih dalam!

Secara geografis, wilayah Cirebon berada di 108°33' BT dan 6°41' LS, memanjang dari barat ke timur dengan ketinggian rata-rata sekitar 5 meter di atas permukaan laut (mdpl), lalu meningkat ke selatan menjadi perbukitan dengan ketinggian hingga 200 mdpl, yang beraeda di sekitar Gunung Ciremai.

​Kondisi geografis, topografi, dan iklim tersebut menjadikan daerah wilayah Cirebon memiliki tingkat kerawanan bencana, salah satunya banjir. Tercatat, sepanjang tahun 2024 terjadi sebanyak 13 kejadian banjir di wilayah Cirebon (BNBP, 2024)

Berikut Faktor banjir di daerah Cirebon menurut Ikatan Ahli Geologi Indonesia :

1. Curah Hujan

Curah hujan adalah total rata-rata air hujan yang turun di suatu wilayah. Semakin tinggi intensitas curah hujan, maka semakin besar potensi terjadinya banjir. Berdasarkan prediksi BMKG Deterministik Desember 2025, wilayah Cirebon termasuk daerah dengan curah hujan kategori menengah, yaitu sekitar 100-300 mm per bulan. Curah hujan yang relatif tinggi ini menjadi salah satu faktor utama penyebab banjir di Cirebon.

2. Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan terbagi menjadi dua, yaitu lahan terbangun dan lahan tidak terbangun.

• Lahan terbangun merupakan lahan yang telah mengalami perubahan dari kondisi alami akibat aktivitas manusia, seperti pembangunan permukiman, jalan, dan infrastruktur lainnya. Perubahan penggunaan lahan ini dapat mengurangi daya serap tanah terhadap air hujan serta mempercepat aliran permukaan. Akibatnya, limpasan air meningkat dan berpotensi memperparah banjir.

• Lahan tidak terbangun merupakan lahan yang ditutupi oleh vegetasi. Keberadaan vegetasi berperan penting dalam menyerap air hujan sehingga dapat mengurangi, bahkan mencegah, terjadinya banjir.

3. Penyempitan Area Sungai

Penyempitan sungai dapat mengurangi kapasitas sungai dalam menampung dan mengalirkan air, terutama saat hujan deras. Kondisi ini menyebabkan air meluap ke daratan. Penyempitan ini sering kali disebabkan oleh pendangkalan akibat sedimentasi, penumpukan sampah, serta keberadaan bangunan liar di bantaran sungai.

4. Jarak terhadap Sungai

Jarak terhadap sungai atau buffer sungai merupakan area di sekitar sungai dengan jarak tertentu. Semakin dekat suatu wilayah dengan sungai, maka semakin besar risiko terjadinya banjir akibat luapan air sungai.

5. Ketinggian Lahan atau Elevasi

Ketinggian Lahan menunjukan posisi suatu wilayah terhadap permukaan laut. Semakin rendah elevansi suatu daerah, maka semakin besar potensi terjadinya bencana banjir. Berdasarkan data BPBD Kota Cirebon, wilayah Cirebon memiliki ketinggian rata-rata sekitar 5 mdpl, yang kemudian meningkat ke arah selatan hingga mencapai perbukitan dengan ketinggian sekitar 200 mdpl.

6. Kemiringan Lereng

Kemiringan lereng merupakan perbandingan antara jarak vertikal (tinggi lahan) dan jarak horizontal (panjang lahan yang datar). Semakin kecil nilai kemiringan lereng, maka wilayah tersebut semakin landai. Daerah dengan kemiringan lereng yang landai cenderung memiliki potensi banjir yang lebih tinggi karena air mengalir lebih lambat. Menurut BPBD Kota Cirebon, kemiringan lereng di wilayah Cirebon berkisar dari landai (5-15%) hingga sangat terjal (50-70%), namun sebagian besar wilayah Cirebon didominasi oleh dataran rendah yang relatif landai.

Beberapa langkah berikut dapat dilakukan untuk mengurangi risiko banjir di wilayah Cirebon:

• menjaga kebersihan lingkungan dan saluran air

• memperluas area resapan air (menanaman pohon, biopori, sumur resapan)

• tidak mendirikan bangunan di bantaran sungai

• Menghindari penebangan hutan secara liar dan menetapkan sistem tebang pilih

 

Penulis : Bung Malik & Seus Rizka

Editor : Seus Putri

Lebih baru Lebih lama