Di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan Jakarta, hidup seorang mahasiswa bernama Reza. Ia berusia 22 tahun, mahasiswa jurusan Ilmu Politik di sebuah universitas negeri. Reza bukanlah tipe mahasiswa yang gemar pesta atau nongkrong di kafe mahal. Ia lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan, membaca buku tentang demokrasi dan keadilan sosial. Impiannya sederhana: menjadi bagian dari perubahan yang lebih baik untuk Indonesia. Namun, impian itu sering terganggu oleh kenyataan pahit. Ia sering melihat berita tentang korupsi yang merajalela, dana pendidikan yang dicuri, proyek infrastruktur yang mangkrak, dan pejabat yang hidup mewah dari uang rakyat.
Suatu hari, Reza mendapat tugas kuliah untuk membuat makalah tentang anti-korupsi. Ia mulai menggali data dari internet dan buku-buku lama. Saat membaca laporan KPK, ia menemukan fakta mengejutkan: di universitasnya sendiri, ada dugaan korupsi dalam pengelolaan dana beasiswa. Beasiswa yang seharusnya membantu mahasiswa miskin ternyata dialokasikan ulang untuk keperluan pribadi beberapa pejabat. “Ini tidak bisa dibiarkan,” gumam Reza sambil menutup laptopnya. Ia ingat kata-kata dosennya: “Korupsi bukan hanya masalah besar, tapi juga kumpulan kecil ketidakadilan yang bisa kita perbaiki bersama.”
Malam itu, Reza pulang ke kos-kosan sederhana di pinggiran kota. Ia bercerita pada teman sekamarnya, Andi, seorang mahasiswa teknik yang juga aktif di organisasi mahasiswa. “Andi, aku nemu sesuatu yang serius. Ada korupsi di kampus kita. Dana beasiswa dicuri. Kita harus lakukan sesuatu.” Andi, yang biasanya santai, langsung serius. “Reza, kamu yakin? Orang-orang itu berkuasa. Tapi kalau benar, kita harus satukan aksi. Aku kenal beberapa teman di BEM. Kita bisa mulai dari sana.”
Mereka mulai merencanakan. Reza mengumpulkan bukti secara diam-diam: screenshot laporan keuangan, wawancara anonim dengan mahasiswa korban, dan bahkan rekaman video dari rapat fakultas yang bocor. Ia tahu risikonya bisa dikeluarkan dari kampus atau mendapat ancaman. Tapi ia ingat kisah para pahlawan anti-korupsi seperti Soekarno atau bahkan aktivis muda seperti yang ia baca di buku. “Ini bukan tentang saya,” katanya pada diri sendiri. “Ini tentang generasi muda yang harus bangkit.”
Gerakan dimulai kecil. Reza dan Andi mengadakan pertemuan rahasia di ruang kuliah kosong. Mereka mengundang beberapa teman terpercaya: Siska, mahasiswi hukum yang tajam analisisnya; Budi, aktivis seni yang bisa membuat poster kreatif; dan Lina, mahasiswi ekonomi yang ahli dalam data. “Kita harus hati-hati,” kata Siska. “Kalau terbongkar, kita bisa dianggap provokator.” Budi menambahkan, “Tapi bayangkan, kalau kita diam, korupsi ini akan terus makan generasi kita. Mari buat kampanye ‘Satukan Aksi Basmi Korupsi’.” Lina mengangguk. “Aku bisa buat infografis data korupsi. Kita sebar lewat medsos.”
Mereka sepakat untuk membuat akun anonim di media sosial. Pesan pertama mereka: “Mahasiswa, bangunlah! Dana beasiswamu dicuri. Satukan aksi, basmi korupsi bersama!” Postingan itu segera viral. Ribuan like dan share datang dari mahasiswa di seluruh Indonesia. Cerita serupa mulai bermunculan: beasiswa yang tidak cair, proyek kampus yang fiktif, dan pejabat yang membangun rumah mewah dari uang publik. Reza merasa ada harapan. Ia bahkan mendapat dukungan dari alumni yang pernah menjadi korban serupa.
Namun, tantangan datang cepat. Dekan fakultas, Pak Hartono, yang diduga terlibat, mendapat angin tentang gerakan itu. Ia memanggil Reza ke ruangannya. “Reza, apa maksudmu ini? Kamu pikir bisa lawan sistem?” Pak Hartono berkata dengan nada mengancam. Reza berdiri tegap, tangannya sedikit gemetar. “Pak, ini bukan lawan sistem. Ini perbaikan sistem. Uang rakyat untuk rakyat, termasuk mahasiswa seperti saya.” Pak Hartono tertawa sinis. “Kamu masih muda dan naif. Korupsi itu bagian dari hidup. Kalau kamu lanjut, kuliahmu bisa berakhir.”
Reza keluar ruangan dengan hati berat. Ia tahu ini klimaks puncak masalah. Malam itu, ia berkumpul dengan timnya di kafe tua. “Kita harus eskalasi,” kata Andi. “Mari buat petisi online dan demo damai di kampus.” Siska menyarankan, “Kita libatkan LSM anti-korupsi. Mereka punya pengalaman.” Budi membuat poster dengan gambar cahaya yang menembus kegelapan, simbol perjuangan mereka. Lina menyebarkan data melalui infografis yang menarik, menunjukkan angka korupsi yang mencengangkan.
Demonstrasi dimulai di halaman kampus. Ratusan mahasiswa berkumpul, membawa spanduk “Satukan Langkah, Basmi Korupsi!” Reza berdiri di panggung darurat, suaranya bergema. “Saudara-saudara mahasiswa, korupsi telah mencuri masa depan kita. Dari dana beasiswa yang hilang hingga proyek yang mangkrak, ini adalah tanggung jawab kita bersama. Mari satukan aksi, bukan hanya bicara, tapi bertindak!” Sorak-sorai menggema. Media datang, dan berita itu menyebar ke nasional. Orang tua mahasiswa, dosen jujur, dan bahkan pejabat bersih mulai mendukung.
Pak Hartono dan sekutunya panik. Mereka mencoba menekan dengan ancaman, tapi gerakan sudah terlalu besar. KPK turun tangan setelah menerima laporan resmi dari tim Reza. Investigasi berjalan cepat, didukung oleh bukti digital yang dikumpulkan Lina. Akhirnya, Pak Hartono dan beberapa pejabat ditangkap. Dana beasiswa dikembalikan, dan universitas menerapkan sistem transparansi baru.
Reza tidak menjadi pahlawan besar. Ia tetap mahasiswa biasa, tapi ia mendapat penghargaan dari rektorat dan dukungan dari masyarakat. Di akhir cerita, Reza duduk di bawah pohon tua di kampus, memandang langit biru. Ia ingat kata-kata Andi: “Korupsi seperti gelap, tapi cahaya bersama bisa menembusnya.” Reza tersenyum. Ia tahu, perjuangan anti-korupsi bukan selesai, tapi langkah mereka telah menunjukkan bahwa generasi muda bisa memulai perubahan. Satukan aksi, dan masa depan Indonesia akan lebih cerah.
Oleh: Khotfiyana
